Semangat Persatuan Harus Dikedepankan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengimbau agar di tahun politik ini masyarakat tetap mengedepankan semangat persatuan. Meski setiap kontestasi akan diikuti dengan rivalitas, ia meminta agar rivalitas itu dibangun di atas semangat tidak saling menjatuhkan, menimbulkan permusuhan dan kebencian.

“Kontestasi tidak boleh mengorbankan fondasi kebangsaan kita. Fondasi sosial dan politik kita berupa stabilitas dan keamanan, toleransi, dan persatuan,” ujarnya saat menghadiri Sidang Terbuka Senat Universitas Kristen Indonesia (UKI) Dalam Rangka Lustrum XIII, di Kampus UKI, Cawang, Jakarta, Senin (15/10).

Presiden ingin dalam kontestasi pemilihan umum 2019 nanti, rakyat bisa merayakannya dengan kegembiraan. “Rakyat kita harus merayakan kontestasi ini dengan kegembiraan yang diwarnai narasi-narasi sejuk dan ide-ide untuk kemajuan, program-program untuk Indonesia maju. Dengan penuh kematangan, itu yang justru akan memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika kita,” ujar Presiden.

Pada kesempatan itu, Presiden kembali menceritakan tentang pidato yang disampaikannya dalam pertemuan tahunan IMF-World Bank 2018 di Bali. Menurut Presiden, pidato serial “Games of Thrones” yang disampaikannya itu memiliki pesan moral yang amat berharga bagi para pemimpin dunia dan para elite politik atau pemimpin di Indonesia.

Presiden mengingatkan saat ini telah terjadi perhelatan ekonomi dan politik dunia yang diwarnai pertarungan antarnegara besar dan elite di dunia. “Pesan moral yang saya sampaikan tidak hanya relevan untuk pemimpin dunia saat ini, tapi juga tepat kita sampaikan kepada masyarakat, pemimpin- pemimpin kita dalam negeri terutama elite-elite yang memperjuangkan kepentingannya,” ucap Jokowi.

Kepala Negara mengatakan konfrontasi dan perselisihan hanya akan mengakibatkan penderitaan. Penderitaan yang dimaksud bukan hanya bagi negara yang mengalami kekalahan, tetapi juga kepada pemenangnya. “Ketika kemenangan sudah dirayakan dan kekalahan diratapi baru, keduanya sadar, tapi sudah terlambat.

Sadarnya baru kebelakangan, bahwa kekalahan maupun kemenangan dalam perang selalu hasilnya sama yaitu dunia porak poranda,” kata Kepala Negara. Padahal, kita tidak boleh melakukan kerusakan hanya untuk menghasilkan sebuah kemenangan. “Tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan di tengah kehancuran. Itulah pesan moral yang ingin saya sampaikan di saat annual meeting itu,” tutur Jokowi.

Negara Besar

Presiden mengatakan Indonesia adalah negara besar yang masyarakatnya terdiri dari bermacam- macam suku, bangsa, dan agama. Keberagaman ini harus dijaga. Keberagaman itu menjadi sumber utama kekuatan Indonesia. Para pendiri bangsa telah memberikan keteladanan yang patut ditiru hingga saat ini.

Ia mengisahkan persahabatan dua pahlawan nasional, yakni Johannes Leimena dan Mohammad Natsir. Leimena merupakan seorang umat kristiani dan pendiri Partai Kristen Indonesia, sedangkan Natsir seorang muslim dan pendiri Partai Masyumi. “Mereka bersahabat, tidak ada saling mencela, mencemooh. Inilah keteladanan yang harus kita ambil, kita pakai,” kata Jokowi.

Jokowi menjelaskan persatuan yang terbangun di tengah masyarakat akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang kuat. Segala tantangan seperti ketidakpastian ekonomi, terorisme, dan radikalisme bisa mudah diatasi jika masyarakat mau bersatu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *